17 Siswa SD di Medan Diduga Keracunan MBG, BGN Tutup Sementara Dapur Penyedia Makanan

- Team

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 13:53 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Donasi

Fhoto/ist.

Fhoto/ist.

Medan, pilarsatuarah.com – Sebanyak 17 siswa SD Negeri 060870 Medan mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (9/10/2026).

Para siswa mengeluhkan mual, muntah, pusing, dan tubuh lemas. Akibatnya, pihak sekolah segera membawa mereka ke Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja Indonesia (IPI) Medan.

Peristiwa tersebut terjadi di SD Negeri 060870, Jalan Krakatau, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain menimbulkan kepanikan, kejadian ini kembali memunculkan perhatian masyarakat terhadap keamanan makanan dalam program MBG.

Sementara itu, Badan Gizi Nasional (BGN) Sumatera Utara telah mengambil langkah penanganan. BGN menghentikan sementara operasional dapur penyedia makanan yang melayani sekolah tersebut.

Kronologi 17 Siswa SD di Medan Diduga Keracunan MBG

Peristiwa bermula ketika para siswa mengonsumsi menu MBG di lingkungan sekolah pada Jumat pagi.

Menu tersebut mencakup nasi putih, telur semur, sayuran, susu, dan buah salak.

Tak lama kemudian, sejumlah siswa mulai mengalami gangguan kesehatan. Mereka mengeluhkan mual, muntah, pusing, dan tubuh lemas.

Melihat kondisi tersebut, para guru segera memberikan pertolongan. Pihak sekolah kemudian membawa para siswa ke Rumah Sakit Imelda Medan.

Selain itu, pihak keluarga langsung mendatangi rumah sakit setelah menerima informasi mengenai kondisi anak-anak mereka.

Petugas medis selanjutnya memberikan penanganan kepada para siswa sesuai kondisi kesehatan masing-masing.

Orang Tua Siswa Minta Pemerintah Evaluasi Program MBG

Kejadian ini memicu kekhawatiran para orang tua siswa.

Salah seorang keluarga siswa, Heri Setiawan, mengaku terkejut setelah mengetahui cucunya harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Heri menerima informasi mengenai kondisi cucunya sekitar pukul 11.30 WIB. Ia kemudian bergegas menuju rumah sakit.

Setibanya di lokasi, Heri melihat cucunya mengalami lemas dan membutuhkan bantuan infus.

Selain itu, ia mengaku belum mengetahui secara pasti makanan yang menyebabkan gangguan kesehatan tersebut.

Menurut Heri, pemerintah perlu mengambil langkah tegas agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi.

“Jadi saran saya buat kepala SPPG atau pemerintah, kalau bisa ditutup saja karena sudah terlalu banyak korban,” ujarnya.

Kekhawatiran tersebut mencerminkan besarnya harapan keluarga terhadap keamanan makanan yang sekolah berikan kepada para siswa.

Pemko Medan Pastikan Penanganan Terhadap Seluruh Siswa

Pemerintah Kota Medan turut memberikan perhatian terhadap kejadian tersebut.

Penjabat Sekretaris Daerah Kota Medan, Erfin Fahrurrazi, bersama jajaran terkait mendatangi Rumah Sakit Imelda.

Kunjungan tersebut bertujuan memastikan seluruh siswa memperoleh pelayanan medis yang sesuai.

Menurut Erfin, sebanyak 17 siswa mengalami gejala mual dan muntah setelah mengonsumsi makanan.

Hingga Jumat sore, tim medis telah mengizinkan 11 siswa pulang. Sementara itu, enam siswa lainnya masih menjalani observasi.

Namun, pemerintah belum dapat memastikan penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut.

Karena itu, pihak terkait perlu menunggu hasil pemeriksaan untuk mengetahui sumber masalah.

Selain menangani korban, pemerintah juga menaruh perhatian pada proses pemeriksaan makanan dan pengawasan penyedia MBG.

BGN Sumut Hentikan Sementara Operasional Dapur SPPG

Badan Gizi Nasional Sumatera Utara mengambil langkah tegas setelah menerima laporan kejadian tersebut.

Kepala BGN Sumut, Yoga Aztrianto, menyampaikan bahwa pihaknya telah menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terkait.

BGN mengambil keputusan tersebut sebagai langkah awal sambil menunggu hasil pemeriksaan.

Selain itu, BGN melibatkan puskesmas dan instansi kesehatan untuk mengevaluasi kelayakan dapur.

Pemeriksaan mencakup kondisi lingkungan serta prosedur pengelolaan makanan.

Menurut BGN, penghentian sementara tersebut berlangsung selama 20 hari.

Selama masa penghentian, sekolah yang bergantung pada pasokan dapur tersebut berpotensi mengalami gangguan layanan MBG.

Karena itu, BGN perlu menentukan langkah lanjutan agar siswa tetap memperoleh layanan makanan yang aman.

Dugaan Penyebab Keracunan Masih dalam Pemeriksaan

BGN Sumut juga menelusuri kemungkinan sumber gangguan kesehatan para siswa.

Salah satu bahan makanan yang menjadi perhatian awal adalah susu dalam menu MBG.

Namun, dugaan tersebut belum membuktikan bahwa susu menjadi penyebab gangguan kesehatan.

Tim pemeriksa masih perlu menelusuri kondisi bahan pangan, proses penyimpanan, hingga pengolahan makanan.

Selain itu, pemeriksaan laboratorium menjadi bagian penting untuk memastikan penyebab kejadian.

Pemerintah juga perlu memastikan prosedur pengawasan dapur berjalan sesuai standar keamanan pangan.

Dengan demikian, hasil pemeriksaan dapat membantu pihak terkait menentukan tindakan lanjutan secara tepat.

Keamanan Makanan MBG Harus Jadi Prioritas

Kasus dugaan keracunan MBG di Medan kembali mengingatkan pentingnya pengawasan keamanan pangan.

Program MBG bertujuan meningkatkan pemenuhan gizi peserta didik. Namun, pelaksanaan program harus mengutamakan kesehatan dan keselamatan anak.

Karena itu, pengelola SPPG perlu memperketat pemeriksaan bahan makanan sebelum melakukan pengolahan dan distribusi.

Selain itu, petugas harus memastikan proses penyimpanan, kebersihan dapur, dan pengiriman makanan memenuhi standar kesehatan.

Pemerintah juga perlu menyampaikan hasil pemeriksaan secara transparan kepada masyarakat.

Langkah tersebut penting untuk menjaga kepercayaan orang tua terhadap pelaksanaan program MBG.

Pada akhirnya, keselamatan siswa harus menjadi prioritas utama. Pemerintah perlu memastikan setiap dapur MBG menjalankan standar keamanan pangan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

Penulis : S. Lubis

Editor : LBB

Follow WhatsApp Channel pilarsatuarah.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penembokan Gang Anggrek Masih Jadi Polemik, Danramil Kawal Mediasi dan Pemko Medan Verifikasi Status Jalan
Sumatera Terkepung Asap, Jambi Terburuk di Dunia, Pemprov Sumut Terbitkan SE Darurat Karhutla
Udara Medan Tidak Sehat, Kabut Asap Karhutla Makin Pekat, Warga Diimbau Gunakan Masker
Karhutla Terparah dalam 11 Tahun, Kabut Asap Indonesia Selimuti ASEAN dan Masuk Agenda Menlu November 2026
Kabut Asap Selimuti Kota Medan, Jarak Pandang 1–5 Kilometer, Kasus ISPA Capai 196 Ribu
Penembokan Gang Anggrek Sunggal Diduga Langgar Perda Kota Medan, Warga Geruduk Wali Kota dan DPRD Medan
BREAKING NEWS Warga Gang Anggrek Diterima Pemko Medan: Tembok Akan Dituntaskan Dalam 3 Hari, DPRD Medan Jadwalkan RDPU 2 Minggu Lagi
Warga Gang Anggrek Kelurahan Sunggal Geruduk Kantor Wali Kota Medan dan DPRD Kota Medan, Tuntut Bongkar Tembok Mafia Tanah
Berita ini 61 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 11:12 WIB

Penembokan Gang Anggrek Masih Jadi Polemik, Danramil Kawal Mediasi dan Pemko Medan Verifikasi Status Jalan

Jumat, 16 Oktober 2026 - 10:59 WIB

Sumatera Terkepung Asap, Jambi Terburuk di Dunia, Pemprov Sumut Terbitkan SE Darurat Karhutla

Kamis, 15 Oktober 2026 - 12:48 WIB

Udara Medan Tidak Sehat, Kabut Asap Karhutla Makin Pekat, Warga Diimbau Gunakan Masker

Rabu, 14 Oktober 2026 - 20:16 WIB

Karhutla Terparah dalam 11 Tahun, Kabut Asap Indonesia Selimuti ASEAN dan Masuk Agenda Menlu November 2026

Rabu, 14 Oktober 2026 - 13:48 WIB

Kabut Asap Selimuti Kota Medan, Jarak Pandang 1–5 Kilometer, Kasus ISPA Capai 196 Ribu

Berita Terbaru