Medan, pilarsatuarah.com – Kualitas udara Kota Medan kembali memburuk akibat kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah pada Kamis (15/10/2026) pagi. Kondisi ini membuat udara masuk kategori tidak sehat dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan bagi masyarakat.
Berdasarkan data Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (AQMS) pada pukul 08.00 WIB, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di kawasan Jalan Pinang Baris, Medan Sunggal, mencapai 117.
Sementara itu, stasiun pemantauan di Jalan Jenderal Besar A.H. Nasution, Medan Johor, mencatat ISPU 113. Kedua kawasan tersebut masuk kategori tidak sehat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, platform pemantau kualitas udara IQAir menunjukkan indeks kualitas udara Amerika Serikat (AQI US) mencapai 199 pada pukul 08.00 WIB, dengan PM2.5 sebagai polutan utama.
Sejak pagi, kabut asap tampak menyelimuti sejumlah kawasan Kota Medan. Lapisan asap yang pekat membuat langit terlihat keabu-abuan dan mengurangi jarak pandang masyarakat.
Kondisi tersebut turut mengganggu kenyamanan warga yang menjalankan aktivitas sehari-hari, terutama pengendara kendaraan bermotor dan masyarakat yang bekerja di luar ruangan.
BMKG Ungkap Dugaan Asal Kabut Asap yang Menyelimuti Medan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa kabut asap yang menyelimuti Sumatera Utara berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.
Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah I Medan, Hendro Nugroho, menjelaskan bahwa hasil pengamatan citra satelit menunjukkan sebaran asap di berbagai wilayah Sumatera Utara.
Menurutnya, pola pergerakan angin mengindikasikan adanya asap kiriman dari wilayah Sumatera bagian selatan dan Kalimantan.
Namun, BMKG masih memerlukan analisis lanjutan untuk menentukan sumber asal asap secara pasti.
Selain memperburuk kualitas udara, kabut asap juga menyebabkan penurunan jarak pandang di sejumlah wilayah Sumatera Utara.
Hasil pengamatan Stasiun Meteorologi Kualanamu, Aek Godang, dan Silangit pada Kamis (15/10/2026) pukul 09.00 WIB menunjukkan jarak pandang berkisar antara satu hingga tiga kilometer.
Akibatnya, pengendara perlu meningkatkan kewaspadaan, khususnya ketika melintasi jalan dengan jarak pandang terbatas.
Warga Keluhkan Kabut Asap, Khawatir Gangguan Pernapasan
Kabut asap yang kembali melanda Kota Medan turut menimbulkan kekhawatiran masyarakat.
Pasalnya, paparan partikel halus PM2.5 dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan memperburuk kondisi kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.
Rina, warga Kecamatan Medan Johor, mengaku khawatir terhadap kondisi udara yang semakin memburuk. Ia menyebut anaknya mulai mengalami batuk ketika kabut asap menyelimuti lingkungan tempat tinggalnya.
“Setiap tahun begini. Kita di Medan jadi korban asap kiriman, padahal sumber apinya bukan dari sini. Anak saya sudah mulai batuk-batuk,” ujar Rina kepada Pilar Satu Arah.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita asma dan penyakit pernapasan memiliki risiko lebih tinggi ketika terpapar polusi udara.
Pemko Medan Imbau Masyarakat Kurangi Aktivitas Luar Ruangan
Pemerintah Kota Medan melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus memantau perkembangan kualitas udara akibat sebaran kabut asap.
Kepala DLH Kota Medan, Melvi Marlabayana, menjelaskan bahwa kondisi udara di Medan masih berada dalam kategori tidak sehat akibat asap yang terbawa angin dari wilayah lain.
Karena itu, pemerintah mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kabut asap semakin pekat.
Selain itu, masyarakat perlu menerapkan sejumlah langkah pencegahan untuk mengurangi dampak buruk polusi udara.
Berikut langkah perlindungan yang dapat dilakukan:
- Gunakan masker N95 atau KN95 yang terpasang dengan baik saat harus beraktivitas di luar ruangan. Masker tersebut lebih efektif menyaring partikel halus dibandingkan masker kain biasa.
- Kurangi aktivitas luar ruangan, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita asma dan penyakit pernapasan.
- Batasi masuknya asap ke dalam rumah dengan menutup jendela dan pintu ketika kondisi udara memburuk. Gunakan penyaring udara HEPA jika tersedia.
- Jaga kondisi tubuh dengan memenuhi kebutuhan cairan dan menghindari aktivitas fisik berat ketika kualitas udara tidak sehat.
- Segera cari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas, batuk berat, atau gangguan pernapasan yang memburuk.
Sementara itu, pengendara juga perlu mengurangi kecepatan dan menjaga jarak aman ketika melintasi kawasan dengan jarak pandang terbatas.
Masyarakat Diminta Pantau Kualitas Udara Secara Berkala
BMKG mengingatkan masyarakat agar terus mengikuti perkembangan informasi cuaca, sebaran kabut asap, dan kualitas udara melalui kanal resmi pemerintah.
Pasalnya, perubahan arah angin dan kondisi atmosfer dapat memengaruhi tingkat kepekatan asap di suatu wilayah.
Selain itu, konsentrasi polutan dapat berubah dalam waktu singkat sehingga masyarakat perlu memperhatikan data pemantauan terbaru sebelum beraktivitas.
Pemerintah daerah juga perlu memperkuat koordinasi dengan instansi terkait untuk mengantisipasi dampak kesehatan serta gangguan transportasi akibat kabut asap.
Masyarakat dapat memantau perkembangan kualitas udara melalui BMKG, Dinas Lingkungan Hidup, dan platform pemantau kualitas udara.
Kondisi ini menjadi pengingat pentingnya penanganan kebakaran hutan dan lahan secara menyeluruh agar dampak asap tidak terus mengganggu kesehatan masyarakat lintas wilayah.
Penulis : S. Lubis
Editor : LBB














Komentar