Medan, pilarsatuarah.com – Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin meluas di Pulau Sumatera, Jumat (16/10/2026). Kota Jambi bahkan tercatat sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia, sementara wilayah Sumatera Utara ikut terdampak parah.
Berdasarkan pantauan BMKG dan satelit pada 14-15 Oktober 2026, sebaran asap telah menutupi seluruh wilayah Sumatera Utara, termasuk Kota Medan dan Danau Toba yang kini tidak terlihat dari kejauhan. Jarak pandang di sejumlah titik Sumut hanya 1-4 kilometer.
Kondisi paling parah terjadi di Jambi dan Palangka Raya. Di Palangka Raya langit berubah oranye, kualitas udara berbahaya, sekolah terpaksa menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) hingga 17 Oktober 2026.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menanggapi kondisi tersebut, Pemprov Sumut resmi menerbitkan Surat Edaran Nomor 400.7.23/XXX/X/2026 tentang kewaspadaan karhutla, polusi udara, dan penyakit sensitif iklim.
Kepala Dinas Kesehatan Sumut, Muhammad Faisal Hasrimy, meminta kabupaten/kota meningkatkan pencegahan dan membagikan masker PM2.5 kepada warga.
“Paparan PM2.5 ini sangat berbahaya, bisa masuk jauh ke paru-paru. Masyarakat harus waspada gangguan pernapasan,” tegas Faisal, Kamis (15/10).
Sementara itu pemerintah pusat melakukan modifikasi cuaca dengan menyemprotkan 1,5 ton es kering (dry ice) untuk memicu hujan buatan.
Ironisnya, di tengah bencana asap ini, KPK mengungkap korupsi dana siap pakai kebencanaan di BNPB. Lima orang ditetapkan tersangka, uang Rp 3,3 Miliar, aset kripto, dan ratusan gram emas disita.
Penulis : S. Lubis
Editor : LBB














Komentar