Medan, pilarsatuarah.com – Sebagian masyarakat masih menganggap infeksi HIV sama dengan AIDS. Padahal, secara medis keduanya merupakan kondisi yang berbeda.
Seseorang yang terdiagnosis HIV tidak otomatis mengalami AIDS. HIV atau Human Immunodeficiency Virus merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, terutama sel CD4.
Virus HIV tetap berada di dalam tubuh setelah seseorang terinfeksi. Namun, terapi antiretroviral atau ARV dapat menekan jumlah virus hingga sangat rendah. Dengan pengobatan yang tepat dan teratur, orang dengan HIV dapat menjalani hidup panjang dan sehat. Terapi juga dapat mencegah atau memperlambat perkembangan penyakit menuju AIDS.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
AIDS Merupakan Tahap Lanjut Infeksi HIV
Berbeda dengan HIV, AIDS merupakan tahap paling lanjut dari infeksi HIV.
Sistem kekebalan tubuh pada tahap ini telah mengalami kerusakan berat. CDC menjelaskan bahwa seseorang dapat menerima diagnosis AIDS ketika jumlah sel CD4 turun di bawah 200 sel/mm³ atau ketika muncul penyakit tertentu yang berkaitan dengan lemahnya sistem kekebalan tubuh.
Sementara itu, WHO menggunakan istilah advanced HIV disease untuk kondisi dengan jumlah CD4 di bawah 200 sel/mm³ atau ketika pasien mengalami kondisi klinis stadium 3 atau 4.
Karena itu, HIV dan AIDS tidak boleh dianggap sebagai istilah yang sama. HIV merupakan virus penyebab infeksi, sedangkan AIDS menggambarkan kondisi lanjut ketika sistem imun mengalami kerusakan berat.
Gejala HIV dan AIDS Bisa Berbeda
Pada fase awal, HIV dapat menimbulkan gejala yang menyerupai flu. Gejalanya antara lain demam, kelelahan, pembengkakan kelenjar getah bening, sakit tenggorokan, atau ruam.
Namun, sebagian orang juga tidak mengalami gejala yang jelas pada tahap awal. Karena itu, pemeriksaan HIV menjadi satu-satunya cara untuk mengetahui status infeksi secara pasti.
Sebaliknya, infeksi HIV yang sudah berkembang ke tahap lanjut dapat membuat tubuh lebih rentan terhadap berbagai penyakit serius. Kondisi tersebut dapat disertai penurunan berat badan, infeksi berulang, diare berkepanjangan, gangguan pada rongga mulut, hingga penyakit oportunistik seperti tuberkulosis dan infeksi berat lainnya.
Deteksi Dini dan Pengobatan Sangat Penting
Deteksi dini menjadi salah satu langkah penting dalam penanganan HIV. Masyarakat dapat melakukan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan, seperti puskesmas, rumah sakit, maupun layanan tes HIV lainnya.
Setelah dokter memastikan diagnosis, pasien dapat segera menjalani terapi antiretroviral. WHO merekomendasikan pemberian terapi HIV secepat mungkin setelah diagnosis dan pemeriksaan klinis.
Pengobatan yang teratur membantu menjaga sistem kekebalan tubuh tetap kuat. Selain itu, terapi ARV dapat menekan jumlah virus hingga tidak terdeteksi dalam darah.
Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat tidak perlu lagi menyamakan HIV dengan AIDS. Diagnosis HIV bukan berarti seseorang telah berada pada tahap AIDS. Sebaliknya, pemeriksaan dini dan pengobatan yang konsisten dapat membantu orang dengan HIV tetap sehat serta mencegah perkembangan penyakit ke tahap yang lebih berat.
Penulis : S. Lubis
Editor : LBB














Komentar