Tanah Karo, pilarsatuarah.com – Penanganan kasus dugaan keracunan massal dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo terus berlanjut. Polisi kini mendalami pihak yang bertanggung jawab atas insiden yang menimpa ratusan pelajar tersebut.
Di tengah proses hukum, ratusan siswa terdampak juga menerima bantuan. DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara memberikan tali asih kepada para korban dan keluarga mereka di Berastagi.
Hasil Laboratorium Temukan Sejumlah Bakteri
Keresahan orang tua muncul setelah insiden keracunan massal pada pertengahan Agustus 2026. Dinas Kesehatan Kabupaten Karo kemudian memeriksa sejumlah sampel.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Petugas mengambil sampel makanan dari sekolah dan dapur penyedia. Mereka juga memeriksa sampel muntahan salah satu korban.
Hasil laboratorium menemukan beberapa jenis bakteri pada menu MBG.
Pada sampel nasi dari sekolah, petugas menemukan bakteri Bacillus cereus. Pemeriksaan juga menemukan Staphylococcus aureus pada ikan dencis bersaus dan sampel muntahan korban.
Sementara itu, sampel buah melon menunjukkan adanya Escherichia coli atau E. coli.
Temuan tersebut kemudian menguatkan dugaan adanya persoalan sanitasi dalam proses pengolahan maupun distribusi makanan. Ketidakpatuhan terhadap standar operasional prosedur atau SOP menjadi salah satu hal yang ikut mendapat perhatian.
Orang Tua Korban Tempuh Jalur Hukum
Sejumlah orang tua korban kemudian menempuh jalur hukum. Mereka mendatangi Polres Tanah Karo dengan pendampingan tim kuasa hukum.
Laporan tersebut menyoroti dugaan kelalaian dalam pengelolaan makanan di Dapur Satuan Pelaksana Pelayanan Gizi (SPPG) Berastagi Sempajaya.
Pihak keluarga meminta aparat kepolisian mengusut seluruh pihak yang memiliki tanggung jawab dalam proses penyediaan makanan.
“Keluarga korban menempuh jalur hukum karena menilai penanganan kasus ini lamban, sementara anak-anak mereka harus menjalani perawatan intensif,” ujar penasihat hukum keluarga korban.
Menurut kuasa hukum, proses hukum perlu memberikan kepastian kepada keluarga. Mereka juga meminta aparat mengungkap penyebab insiden secara menyeluruh.
Operasional Dapur Dihentikan
Setelah kasus mencuat, pihak terkait mengambil langkah terhadap operasional dapur MBG tersebut.
Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi menonaktifkan kepala SPPG. Pihak terkait juga menghentikan sementara operasional dapur guna mendukung proses pemeriksaan.
Sementara itu, Polres Tanah Karo terus memeriksa perkara tersebut. Penyidik mendalami keterangan para saksi, hasil laboratorium, serta pihak-pihak yang terlibat dalam proses pengolahan dan distribusi makanan.
Polisi juga mendalami kemungkinan adanya unsur pidana dalam insiden tersebut. Proses itu akan menentukan pihak yang dapat dimintai pertanggungjawaban hukum.
495 Siswa Terima Tali Asih
Di tengah proses hukum, keluarga korban mendapat dukungan sosial.
Pada Sabtu, 3 Oktober 2026, sebanyak 495 siswa terdampak mengikuti kegiatan di Gedung Kesenian Open Stage Taman Mejuah-Juah, Berastagi.
Para siswa hadir bersama orang tua masing-masing. Dalam kegiatan tersebut, mereka menerima tali asih melalui rekening tabungan Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara, Rapidin Simbolon, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memberikan dukungan kepada para siswa.
Menurut Rapidin, kegiatan itu juga merupakan tindak lanjut dari perhatian Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri terhadap kondisi para korban.
“Kami hadir untuk memberikan semangat, dorongan, dan penguatan kepada anak-anak kita. Mudah-mudahan mereka segera pulih dan tidak membawa pengalaman ini menjadi trauma,” ujar Rapidin.
Nilai Bantuan Dibedakan Berdasarkan Kondisi Korban
DPD PDI Perjuangan Sumut membagi bantuan berdasarkan kondisi medis masing-masing siswa.
Korban dengan kategori rujukan atau gejala berat menerima bantuan sebesar Rp2,5 juta per orang.
Siswa yang menjalani rawat inap menerima bantuan sebesar Rp500 ribu per orang.
Sementara itu, siswa dengan kategori terdampak ringan atau menjalani rawat jalan memperoleh bantuan sebesar Rp300 ribu per orang.
Wakil Ketua Bidang Politik DPD PDI Perjuangan Sumut, Sutrisno Pangaribuan, mengatakan bantuan tersebut memang tidak dapat menghapus pengalaman yang dialami para siswa.
Namun, menurut dia, pemberian tali asih menjadi bentuk dukungan kepada anak-anak dan keluarga korban selama menjalani masa pemulihan.
Setelah menyalurkan bantuan di Kabupaten Karo, rombongan juga melanjutkan kegiatan sosial kepada sejumlah siswa terdampak kasus MBG di Kabupaten Asahan.
Kasus keracunan massal MBG di Karo kini masih memasuki proses hukum. Keluarga korban berharap penyidik segera mengungkap penyebab kejadian serta pihak yang harus bertanggung jawab.
Penulis : S. Lubis
Editor : LBB














Komentar