Cirebon, pilarsatuarah.com – Kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Cirebon, Jawa Barat, terus bertambah. Hingga Kamis (22/10/2026) pukul 14.00 WIB, Dinas Kesehatan Kota Cirebon mencatat 395 orang mengalami gejala dugaan keracunan.
Dari jumlah tersebut, 218 orang masih menjalani perawatan di 10 rumah sakit dan sejumlah puskesmas. Sementara itu, 177 orang lainnya menjalani rawat jalan atau sudah pulang.
Para korban berasal dari sekitar 700 orang yang menyantap menu MBG dari SPPG Kalijaga 5, Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami mencatat total 395 orang yang terdata mengalami gejala dugaan keracunan. Meski jumlahnya bertambah, kedatangan pasien baru ke faskes saat ini sudah melambat dibandingkan hari pertama dan kedua,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Siti Maria Listiawaty, Jumat (23/10/2026).
Ratusan Korban Alami Mual hingga Diare
Ratusan korban terdiri dari siswa TK, SD, guru, hingga pegawai SPPG. Mereka mengalami gejala setelah menyantap menu MBG pada Selasa (20/10/2026).
Petugas menduga sop telur puyuh menjadi salah satu makanan yang memicu keluhan. Sejumlah penerima bahkan mengaku merasakan kuah yang terasa asam.
Para korban kemudian mengalami berbagai gejala, seperti pusing, mual, muntah, dan diare.
Kelompok usia TK menjadi korban terbanyak. Dinkes juga mencatat 64 pasien berusia di atas 19 tahun.
“Tidak ada pasien yang serius hingga memerlukan ruang intensif. Rata-rata pasien mengeluhkan diare dan dirawat di ruang biasa,” jelas Siti Maria.
Kepala SPPG Kalijaga 5 Dicopot
Kasus tersebut berujung pada pencopotan Kepala SPPG Kalijaga 5. Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Cirebon mengambil langkah tersebut untuk memudahkan proses pemeriksaan.
Kepala KPPG Cirebon, Yulian Septa Pratama, membenarkan pencopotan tersebut.
“Untuk saat ini, yang bersangkutan sudah dicopot dari jabatan kepala SPPG. Tetap akan ada tindak lanjut berdasarkan hasil pemeriksaan nanti,” ujar Yulian.
Investigasi awal Badan Gizi Nasional (BGN) menemukan dugaan pelanggaran terhadap standar operasional prosedur (SOP).
Kepala SPPG juga mengaku membeli telur puyuh dari pihak di luar SPPG. Padahal, petunjuk teknis (juknis) mengharuskan SPPG memproses dan mengolah seluruh bahan makanan di dapurnya.
“Iya, itu sudah jadi satu poin temuan. Kepala SPPG mengaku membeli telur puyuh dari pihak di luar SPPG, yang seharusnya seluruh bahan makanan itu sesuai juknis diproses dan diolah di dapur,” ungkap Yulian.
Sejumlah Sekolah Belum Kembali Normal
Kasus keracunan tersebut turut mengganggu kegiatan belajar mengajar. Sejumlah sekolah belum menjalankan aktivitas seperti biasa.
Di SDN Taman Kalijaga Permai, siswa mengikuti pembelajaran secara daring pada Rabu (21/10/2026).
Sehari kemudian, Kamis (22/10/2026), siswa kembali masuk sekolah. Namun pihak sekolah memulangkan mereka lebih cepat, sekitar pukul 11.00 WIB, agar para guru dapat mendampingi siswa yang masih menjalani perawatan.
“Kami gelar doa bersama untuk kesembuhan teman-teman mereka yang masih terdampak keracunan,” kata Kepala SDN Taman Kalijaga Permai, Fauziyah Hayati Fazrin.
Dinkes Tunggu Hasil Pemeriksaan Laboratorium
Dinas Kesehatan Kota Cirebon hingga kini belum mengetahui penyebab pasti kasus tersebut. Petugas masih berkonsultasi dengan dokter spesialis mikrobiologi klinik untuk menentukan masa inkubasi kuman yang mungkin menyebabkan gejala.
Petugas juga masih memeriksa sampel makanan dan sampel medis pasien melalui proses pembiakan. Dinkes memperkirakan hasil pemeriksaan laboratorium baru keluar paling cepat dalam dua minggu.
“Kami sedang berkonsultasi mengenai sampai jam atau hari ke berapa gejala masih bisa dianggap sebagai akibat dari konsumsi makanan MBG. Sebab, masing-masing kuman memiliki karakteristik waktu inkubasi,” jelas Siti Maria.
BGN Tanggung Biaya Perawatan
Badan Gizi Nasional (BGN) menanggung seluruh biaya perawatan para korban.
Kasus ini juga menuai kritik dari berbagai pihak. Tim Parlemen Bayangan Indonesia Pasti, Heru Subagja, mendesak pemerintah pusat turun langsung menangani persoalan tersebut.
“Tidak ada helikopter kepresidenan yang mendarat, tidak ada iring-iringan mobil menteri, bahkan tidak ada pernyataan resmi yang menunjukkan prihatin mendalam,” ujarnya.
Hingga berita ini ditayangkan, tim investigasi BGN masih memeriksa lokasi dan mengevaluasi sarana SPPG Kalijaga 5.














Komentar