Medan, pilarsatuarah.com – Kabut asap yang melanda Kota Medan semakin mengkhawatirkan. Kondisi ini memperburuk kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan masyarakat.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Medan mencatat 45.818 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sepanjang September 2026. Angka tersebut melonjak 40,5 persen dibandingkan Agustus yang mencatat 32.599 kasus.
Dengan demikian, jumlah kasus ISPA bertambah sebanyak 13.219 kasus hanya dalam satu bulan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinkes Medan, Surya Syahputra Pulungan, membenarkan adanya peningkatan kasus gangguan pernapasan tersebut.
“Kasus ISPA di Medan mengalami tren peningkatan sejak bulan Agustus,” ujar Surya.
Peningkatan kasus ISPA berlangsung bersamaan dengan memburuknya kualitas udara akibat kabut asap. Namun, kondisi tersebut belum membuktikan bahwa seluruh kasus ISPA memiliki hubungan langsung dengan paparan asap.
Kualitas Udara Medan Memburuk, Polusi Ancam Kesehatan Warga
Kabut asap terus menyelimuti sejumlah kawasan Kota Medan. Akibatnya, masyarakat menghadapi peningkatan risiko gangguan pernapasan, terutama anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru-paru.
Data pemantauan kualitas udara mencatat konsentrasi partikel PM2.5 sempat mencapai 116,3 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Sementara itu, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di kawasan Medan Labuhan mencapai angka 136 atau masuk kategori tidak sehat.
Partikel PM2.5 memiliki ukuran sangat kecil. Oleh karena itu, partikel tersebut mampu masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Selain mengancam kesehatan, kabut asap juga mengurangi jarak pandang di sejumlah wilayah Kota Medan.
Pemerintah pun meningkatkan pemantauan kualitas udara dan mengimbau masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar rumah.
DLHK Sumut Ungkap Asal Kabut Asap dari Luar Provinsi
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Sumatera Utara, Heri Wahyudi Marpaung, mengungkapkan bahwa kabut asap berasal dari sejumlah wilayah luar Sumatera Utara.
Heri menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers di Kantor Gubernur Sumatera Utara, Jumat (16/10/2026).
Menurut Heri, hasil pemantauan BMKG saat itu tidak menemukan titik api aktif di wilayah Sumatera Utara.
Pergerakan angin membawa asap dari wilayah lain yang mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menuju Sumatera Utara.
“Berdasarkan data BMKG hari ini, tidak ada lagi titik api di Sumatera Utara. Asap yang merambah ke wilayah kita dipicu pergerakan angin dari daerah luar,” tegas Heri.
Meski demikian, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran dan perubahan kualitas udara.
Kabut Asap Picu Kebijakan PJJ pada 16–21 Oktober 2026
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengambil langkah antisipasi untuk melindungi kesehatan para pelajar.
Melalui Dinas Pendidikan Sumut, pemerintah menginstruksikan sekolah untuk melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) mulai 16 hingga 21 Oktober 2026.
Surat Edaran Nomor 400.3/106/DISDIK/X/2026 menjadi dasar kebijakan tersebut.
Kebijakan ini mencakup seluruh jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA, SMK, hingga Sekolah Luar Biasa (SLB) dan sederajat.
Selama kebijakan berlangsung, para siswa mengikuti kegiatan belajar dari rumah. Sementara itu, guru tetap melaksanakan pembelajaran melalui sarana komunikasi dan platform digital.
Pemerintah juga meminta orang tua mendampingi anak-anak selama proses pembelajaran.
Selain itu, orang tua perlu membatasi aktivitas anak di luar rumah untuk mengurangi risiko paparan polusi udara.
Langkah tersebut bertujuan menjaga kesehatan peserta didik sekaligus memastikan kegiatan pendidikan tetap berlangsung.
Dinkes Medan Minta Warga Waspadai Penyakit Pernapasan
Dinas Kesehatan Kota Medan meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit saluran pernapasan.
Dinkes mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama ketika kabut asap semakin pekat.
“Kami mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan terutama saat kondisi udara terlihat berasap. Apabila terpaksa harus beraktivitas di luar rumah, pastikan selalu menggunakan masker,” ujar Surya.
Masyarakat juga perlu menggunakan masker respirator seperti N95 atau KN95 ketika beraktivitas di luar rumah agar dapat mengurangi paparan partikel halus.
Selain itu, warga sebaiknya menghindari pembakaran sampah dan menjaga kebersihan lingkungan.
Bagi masyarakat yang mengalami sesak napas atau gangguan pernapasan berat, tenaga kesehatan menganjurkan pemeriksaan medis sesegera mungkin.
Dinkes Medan terus memantau perkembangan kasus ISPA untuk memperkuat langkah pencegahan.
DLH Medan Pantau Kualitas Udara Selama 24 Jam
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Medan terus memantau perkembangan kualitas udara melalui tiga stasiun Air Quality Monitoring System (AQMS).
Ketiga stasiun tersebut berada di Kecamatan Medan Deli, Medan Johor, dan Medan Sunggal.
Sistem AQMS beroperasi selama 24 jam untuk mencatat perubahan konsentrasi polutan udara.
Melalui sistem tersebut, pemerintah dapat mengevaluasi kondisi kualitas udara secara berkala.
Masyarakat juga dapat memantau informasi kualitas udara secara langsung melalui situs resmi Kementerian Lingkungan Hidup di https://ispu.kemenlh.go.id/.
Dengan informasi tersebut, warga dapat menyesuaikan aktivitas sehari-hari berdasarkan kondisi udara.
Sementara itu, pemerintah daerah terus memperkuat koordinasi penanganan kabut asap dan upaya perlindungan kesehatan masyarakat.
Peningkatan kasus ISPA menjadi peringatan penting bagi seluruh pihak. Oleh sebab itu, pemerintah dan masyarakat perlu meningkatkan langkah pencegahan agar dampak kabut asap tidak semakin meluas.
Penulis : Red/Tim
Editor : LBB














Komentar